Stereotip Perempuan yang Menghalangi Pendidikan Sudah Tak Sesuai Zaman Lagi

Perempuan lulus sekolah bertoga

Seringkali orang-orang berpikir dan berkata, “buat apa sekolah tinggi-tinggi, paling nanti juga menikah terus jadi ibu rumah tangga.” ┬áKurang lebih seperti itulah stereotip perempuan yang berkembang di masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain bahkan hingga di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun.

Stereotip tersebut mengisyaratkan bahwa perempuan seolah-olah tidak boleh bermimpi besar dan melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang tertinggi. Pernikahan kerap kali dicap sebagai alasan utamanya, karena perempuan akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga. Sehingga, orang kemudian beranggapan bahwa laki-laki lebih pantas melanjutkan pendidikan tinggi.

Nyatanya, stereotip itu masih saja dipercaya hingga sekarang, apalagi di daerah pedesaan. Pernikahan dan ekonomi adalah faktor utamanya. Berdasarkan survei yang pernah dilakukan oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) Kemdikbud pada tahun 2013, pengajar perguruan tinggi perempuan hanya sebesar 40,58 persen sedangkan laki-laki 59,42 persen.

Survei tersebut menunjukkan bahwa sedikitnya perempuan yang mengambil gelar S2 dan S3 sebagai syarat menjadi pengajar perguruan tinggi. Tidak hanya di Indonesia, di Amerika Serikat pun jumlah perempuan yang mengambil gelar doktor lebih sedikit dibanding laki-laki.

Berdasarkan Survei National Science Foundation, pada rentang waktu 2010-2014 di Amerika Serikat jumlah perempuan yang mengambil gelar doktor adalah 72.446 sedangkan laki-laki jumlahnya mencapai 104.425.

Tidak hanya soal melanjutkan pendidikan, stereotip lain yang berkembang juga menghalangi perempuan menjadi ilmuwan. Dengan kata lain, semakin sedikit perempuan yang mengambil jurusan atau bekerja di sektor sains dan teknologi.

Perempuan yang tidak terwakili perannya di kedua bidang tersebut diakibatkan oleh adanya bias gender, dimana orang cenderung beranggapan bahwa sains dan teknologi adalah bidang yang maskulin dan perempuan kurang kompeten di dalamnya.

Hal ini terjadi di seluruh dunia, termasuk negara maju sekalipun. Dalam survei yang dilakukan di beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa menunjukkan bahwa perempuan yang mendaftar jurusan fisika dan teknik hanya sebesar 30% dan sekitar 30% atau kurang yang berada dalam angkatan kerja sektor sains dan teknologi.

Sayangnya stereotip ini sudah tertanam cukup kuat, karena ketika melihat bahwa ilmuwan itu seorang laki-laki atau suatu hal yang ilmiah juga identik dengan laki-laki, hingga ide bahwa fisika adalah bidang yang maskulin akan direkam oleh otak kita.

Sehingga ketika ada ilmuwan perempuan atau perempuan-perempuan yang terjun di dalam bidang sains, fisika, atau teknologi akan dianggap tidak kompeten dan keberadaannya tidak disukai.

Stereotip-stereotip seperti diatas seharusnya harus bisa dihilangkan dari masyarakat. Masyarakat harus mengubah pola pikirnya akan pendidikan perempuan. Pernikahan bukanlah alasan untuk menghalangi perempuan meneruskan pendidikan tinggi dan menggapai mimpinya.

Masalah konflik peran yang dialami perempuan yang menjadi istri, ibu, sekaligus pelajar juga sebaiknya tidak perlu dipertentangkan. Karena perempuan semakin membutuhkan akses pendidikan untuk mendapatkan peluang lebih banyak di kemudian hari.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tentunya sangat bernilai dan bermanfaat. Pendidikan dapat membuat pola pikiran terbuka sekaligus membentuk karakter dan kepribadian. Jangan salah, dari para ibu yang berpendidikan nantinya juga akan lahir anak-anak yang berkualitas pula.

Masyarakat perlu menghentikan stereotip-stereotip seperti perempuan tidak perlu pendidikan tinggi atau ilmuwan tidak cocok dengan perempuan. Pola pikir yang seperti itu harus dihentikan yang juga dibarengi dengan kesadaran dan motivasi untuk mengubah asumsi terhadap pendidikan perempuan.

Author: admin